Sabtu, 21 April 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ketertinggalan peradaban Islam dari peradaban lain sesungguhnya disebabkan oleh ketidakmampuan pendidikan Islam menjawab tantangan zaman. Ketidakmampuan ini bersumber dari kegagalan pendidikan Islam meletakkan sendi-sendi dasar yang kuat bagi pengembangan Islamisasi ilmu pengetahuan (Islamic civilization science). Bahkan, pendidikan Islam saat ini terkesan terisolasi dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu yang belum disadari oleh kalangan umat Islam adalah adanya perubahan “besar-besaran” yang terjadi dalam masyarakat bahkan dunia. Globalisasi meniscayakan untuk setiap individu, kelompok, bahkan agama, berfikir ulang (rethinking) terhadap eksistensinya di muka bumi ini. Dalam rangka menunjukkan eksistensinya tersebut manusia perlu proses belajar secara utuh dan seimbang. Manusia diciptakan oleh Tuhan bukan dirancang untuk dapat hidup tanpa proses belajar, maka dari itu untuk mengawali proses belajar itu ia harus mengetahui jati dirinya, dan potensi yang ia miliki. Proses belajar inilah yang kemudian menjadi basis pendidikan. Pendidikan sesungguhnya dari manusia untuk manusia, artinya hal yang mendasar yang harus dilakukan oleh segenap pelaku pendidikan, guru, birokrat, dan masyarakat adalah mencari landasan filosofis dari pendidikan itu sendiri, termasuk pendidikan Islam. Dalam konteks bangsa Indonesia, pendidikan Islam tidak bisa lepas dari pendidikan itu sendiri secara umum.Artinya setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemeritah, Diknas, mau tidak mau pasti berimplikasi pada pendidikan Islam. Selain itu pendidikan, secara makro, masih sering terjebak pada problem-problem yang itu sebetulnya kurang menguntungkan dari segi kualitas pendidikan. Kita bisa melihat misalnya hampir setiap ada pergantian pejabat, khususnya menteri pendidikan, maka hampir bisa dipastikan akan adanya perubahan kebijakan (policy) yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan Islam sejak dulu hingga sekarang masih menjadi pilihan alternatif terakhir (second class) setelah pendidikan umum. Ketertinggalan itu tentunya bisa dilacak dari faktor penyebabnya, baik faktor keilmuan, kelembagaan, maupun faktor sarana dan prasarana lainnya. Kualifikasi pendidikan yang bermutu tentunya dipandang dari sejauh mana out put yang ada bisa menjadi pioner dalam masyarakat dan menjadi problem solver bagi problematika umat. Untuk menciptakan manusia yang demikian tentunya perlu diupayakan secara berkelanjutan dan terencana, salah satunya dengan selalu mengevaluasi serta memperbaiki iklim yang ada. Hal lain yang juga penting untuk diperhatikan adalah proses pembelajaran atau praktik-praktik pembelajaran yang ada dilembaga-lembaga pendidikan Islam dewasa ini. Dalam konteks pembelajaran, dunia Islam saat ini masih menggunakan sistem figuratif ketimbang operatif. Dampak dari sistem figuratif ini dalam proses pembelajaran adalah terjadinya doktrinasi dalam setiap materi pelajaran. Kegiatan belajar lebih banyak menghafal daripada menganalisis, guru lebih banyak ceramah daripada berdiskusi dengan siswanya. Praktik pendidikan semacam ini oleh Ikhwanus Shafa sangat berpengaruh pada kurang terlatihnya siswa akan eksistensi pengenalan diri sebagai sasaran dari tujuan pendidikan yang mendasarinya . Oleh karena itu, pada makalah ini, saya akan berusaha menyajikan tentang ”Penyelenggaraan Pendidikan Islam di SMP” sebaik mungkin berdasarkan dari literatur-literatur yang saya dapatkan. B. Rumusan Masalah Bertolak dari uraian latar belakang masalah, maka dapat kami identifikasi terhadap masalah yang akan kami uiraikan sebagai berikut : 1. Apa Itu Pendidikan Islam? 2. Apa Ciri-ciri Pendidikan Agama Islam di SMP ? 3. Bagaimana upaya Mensiasati Keterbatasan Jam Pelajaran Sebagai Strategi Peneyelenggaraan Pendidikan Agama Islam di Sekolah ? 4. Apa Saja Alat –alat Yang Digunakan Dalam Proses Penyelenggaraan Pendidikan? C. Tujuan Masalah Berdasarkan perumusan di atas, maka makalah ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui Apa Itu Pendidikan Islam. 2. Mengetahui Ciri-ciri Pendidikan Agama Islam di SMP. 3. Mengetahui upaya Mensiasati Keterbatasan Jam Pelajaran Sebagai Strategi Peneyelenggaraan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. 4. Mengetahui Alat –alat Yang Digunakan Dalam Proses Penyelenggaraan Pendidikan. BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Pendidikan Islam Pendidikan berasal dari kata pedagogi (paedagogie, bahasa latin) yang berarti pendidikan dan kata pedagogia (paedagogik) yang berarti ilmu pendidikan yang berasal dari bahasa Yunani. Pedagogia terdiri dari dua kata yaitu ‘Paedos’ (anak, pen) dan ‘Agoge’ yang berarti saya membimbing, dan memimpin anak. Sedangkan paedagogos ialah seorang pelayan atau bujang (pemuda, pen) pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak (siswa, pen) ke dan dari sekolah. Perkataan paedagogos yang semula berkonotasi rendah (pelayan, pembantu) ini, kemudian sekarang dipakai untuk nama pekerjaan yang mulia yakni paedagoog (pendidik atau ahli didik atuu guru). Dari sudut pandang ini pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan seseorang dalam membimbing dan memimpin anak menuju ke pertumbuhan dan perkembangan secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab. Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia, 1991 : 232. Pendidikan berasal dari kata “didik” sehingga menjadi “mendidik”artinya memelihara latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Adapun menurut UU No.20 tahun 2003. Tentang system Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dan mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dalam dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Dengan demikian, menurut Drs. Ahmad D Marimba : Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya keperibadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian yang lain seringkali beliau mengatakan kepribadian utama tersebut dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek kerohanian dan kejasmanian juga harus berlangsung secara bertahap. Oleh karena suatu pematangan yang bertitik akhir pada optimilasi perkembangan atau pertumbuhan, baru dapat tercapai bila mana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan akhir perkembangan atau pertumbuhannya. Dari beberapa pengertian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan Al-quran terhadap anak-anak agar terbentuk kepribadian muslim yang sempurna. Agar anak mempunyai akhlak yang mulia anak didik diharapkan dapat memperhatikan pelajaran berbasis agama sebagai kontrol dalam kehidupan anak didik. Sebagaimana dalam sejarah perkembangan Islam, pada priode permulaan dakwah Nabi Muhammad saw. Tidak langsung menuntut sahabat-sahabatnya mengamalkan syariat Islam secara sempurna sebagai yang dijabarkan dalam lima rukun Islam, akan tetapi selama 10 tahun di Makkah beliau mengajarkan Islam lebih dahulu menitik beratkan kepada pembinaan landasan fundamental yang berupa keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT. Karena dari landasan inilah manusia akan berahlak yang baik. Hal ini merupakan implementasi dari aqidah. B. Ciri-Ciri Pendidikan Agama Islam di SMP. Adapun Lembaga-lembaga pendidikan diantaranya SMP/MTS yang berbasis Islam diharuskannya memiliki beberapa ciri dalam proses belajar-mengajar terhadap Mata Pelajaran sebagai berikut : 1. Menerapkan tata cara membaca Al-qur’an menurut tajwid, mulai dari cara membaca “Al”- Syamsiyah dan “Al”- Qomariyah sampai kepada menerapkan hukum bacaan mad dan waqaf. 2. Meningkatkan pengenalan dan keyakinan terhadap aspek-aspek rukun iman mulai dari iman kepada Allah sampai kepada iman pada Qadha dan Qadar serta Asmaul Husna. 3. Menjelaskan dan membiasakan perilaku terpuji seperti qanaah dan tasawuh dan menjauhkan diri dari perilaku tercela seperti ananiah, hasad, ghadab dan namimah. 4. Menjelaskan tata cara mandi wajib dan shalat-shalat munfarid dan jamaah baik shalat wajib maupun shalat sunat. 5. Memahami dan meneladani sejarah Nabi Muhammad dan para shahabat serta menceritakan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di nusantara. C. Upaya Mensiasati Keterbatasan Jam Pelajaran Sebagai Strategi Peneyelenggaraan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dua jam pelajaran di kelas memang tidaklah akan cukup untuk menyampaikan informasi keagamaan yang begitu komplek. Kalaulah kita tidak pandai mensiasatinya maka informasi yang diterima pelajar khawatir hanya akan menyentuh aspek kognitif saja sementara aspek afektif dan psikomotor tidak dapat tersentuh. Dalam masalah akhlak mungkin saja ketika dilakukan evaluasi tertulis (ulangan) para pelajar dapat menjawab dengan tepat bahkan bisa menyebutkan dalil naqlinya bahwa etika makan dan minum dalam Islam diantaranya tidak boleh sambil berdiri, tapi dalam kehidupan sehari-hari pelajar tersebut masih saja makan dan minum sambil berdiri. Dalam masalah ibadah para pelajar mungkin saja ketika dilakukan evaluasi tertulis (ulangan) dapat menjawab dengan tepat bahwa salat lima waktu itu hukumnya wajib bila ditinggalkan berdosa dan bila dilaksanakan akan mendapat pahala, tapi dalam kehidupan sehari-hari pelajar tersebut masih enggan melakukan shalat. Hal ini tentu tidak kita harapkan karena apa yang dilakukan para pelajar tidak sesuai dengan apa yang telah diketahuinya, diakui atau tidak kenyataan itu membuktikan bahwa pendidikan Agama Islam masih belum berhasil. Upaya untuk mensiasati keterbatasan jam pelajaran dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, diantaranya adalah : 1. Menyeleggarakan Bina Rohani Islam (ROHIS) Kegiatan Bina Rohani Islam (ROHIS), dapat dijadikan sebagai kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh pelajar yang beragama Islam. Untuk mewujudkan kegiatan ini perlu dibuat program kerja yang matang sehingga dalam pelaksanaannya tidak berbenturan dengan kegiatan ekstrakurikuler lainnya, didanai dengan dana yang cukup, materi yang disampaikan dapat menunjang materi intrakurikuler dengan menggunakan metode yang menyenangkan tapi tetap edukatif serta memanfaatkan tenaga pengajar yang ada di lingkungan sekolah yang memiliki komitmen tinggi terhadap Islam. a. Waktu Penyelenggaraan Bina Rohani Islam (ROHIS) Untuk sekolah yang menyelenggarakan Kegiatan Belajar Mengajar pada pagi hari saja maka waktu penyelenggaran kegiatan Bina Rohani Islam (Rohis) dapat dilakukan setiap hari setelah selesai Kegiatan Belajar Mengajar dengan lama pertemuan sekitar satu jam setengah (90 menit). Dua hari untuk kelas satu (hari Senin dan Selasa) dua hari untuk kelas dua (Rabu dan Kamis) dan satu hari untuk kelas tiga pada hari Jum’at (Untuk putri dilakukan setelah Kegiatan Belajar Mengajar pada saat pelajar putra Salat Jum’at, sedangkan untuk putera dilakukan setelah salat jum’at). Sebagai contoh untuk memperjelas pendistribusian waktu penyelenggaraan Bina Rohani Islam bagi sekolah-sekolah yang menyelenggarakan KBM pada pagi hari saja dan selesai kegiatan belajar mengajar pada pukul 13.30 WIB, berikut ini terdapat jadwal penyelenggaraan Bina Rohani Islam yang dilakukan di SMP untuk kelas I sampai dengan kelas III yang masing-masing tingkat terdiri dari sembilan rombongan belajar dan masing-masing rombogan belajar mengikuti satu kali kegiatan Bina Rohani Islam dalam satu minggu. Contoh Jadwal Penyelenggaraan Bina Rohani Islam ; No Hari Kelas Waktu Keterangan 1 Senin I (A,B,C,D) 14.00-15.30 2 Selasa I (E,F,G,H,I) 14.00-15.30 3 Rabu II (A,B,C,D,E) 14.00-15.30 4 Kamis II (F,G,H,I) 14.00-15.30 5 Jum’at III (A- I Putri) III (A- I Putra) 11.30-13.00 13.00-14.30 Sementara untuk sekolah yang menyelenggarakan Kegiatan Belajar Mengajar pada pagi dan siang hari Bina Rohani Islam dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan hari-hari yang kegiatan belajar mengajarnya tidak penuh. Sebagai contoh untuk kelas siang para pelajar putrinya bisa memanfaatkan hari jum’at setelah selesai Kegiatan Belajar Mengajar kelas pagi ketika para pelajar putra salat Jum’at. Sementara untuk para pelajar putra bisa memanfaatkan hari Sabtu setalah selesai Kegiatan Belajar Mengajar kelas pagi sebelum mereka melakukan kegiatan belajar mengajar pada siang harinya. Kemudian untuk para pelajar kelas pagi bisa memanfaatkan waktu siang hari setelah selesai Kegiatan Belajar Mengajar dengan memanfaatkan kelas yang tersisa dan ruangan-ruangan lain yang bisa di pergunakan termasuk bisa menggunakan musola, aula dan lain-lain. Bahkan jika guru agama dan seluruh aparat sekolah mempunyai keinginan yang kuat untuk menyelenggarakan kegiatan Bina Rohani Islam, kegiatan tersebut dapat dilakukan tanpa memerlukan ruangan khusus, bisa saja kegiatan itu di lakukan di taman-taman sekolah, lapangan olah raga dan tempat-tempat lainnya. b. Sumber Dana Penyelenggaraan Bina Rohani Islam Sumber dana bina Rohani Islam bisa disusun sejak awal tahun pelajaran, dan dimasukan ke dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Dana tersebut dapat di distribusikan untuk seluruh kegaiatan yang ada kaitannya dengan Bina Rohani Islam termasuk didalamnya biaya pengganti transport para pembimbing Bina Rohani Islam. c. Materi Yang Disajikan Materi yang disajikan dalam Bina Rohani Islam hendaknya dapat menunjang materi intrakurikuler, dengan penekanan pada pendalaman pemahaman dan kemampuan membaca Al Qur’an tapi tidak melupakan materi-materi lain seperti Aqidah, Ahlak, Ibadah, Tarikh dan doa-doa pilihan. Mengapa harus demikian ?. Karena tujuan semula penyelenggaraan Bina Rohani Islam adalah dalam rangka mensiasati keterbatasan jam mengajar di kelas. d. Tehnik dan Metode Penyampaian Materi. Pada pertemuan pertama para pembimbing Bina Rohani Islam mengelompokan dan menginventarisir pelajar yang sudah mampu membaca Al-Quran dan yang belum. Pelajar yang telah dikelompokkan tersebut untuk pertemuan selanjutnya dianjurkan membawa Al-Qur’an bagi yang sudah mampu membacanya dan membawa Buku Iqro bagi yang belum mampu membaca Al-Qur’an. Untuk pertemuan berikutnya, pada empat puluh menit pertama dipergunakan untuk pendalaman Baca Tulis Qur’an (BTQ). Bagi yang sudah mampu membaca Al-Qur’an dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an sendiri, lebih baik lagi bila melakukan hapalan dan bagi yang belum mampu membaca Al-Qur’an dibimbing oleh pembimbing Bina Rohani Islam untuk mempelajari Iqro, dan bila perlu pembimbing bisa meminta bantuan pelajar yang telah mampu membaca Al-Qur’an untuk membimbing temannya mempelajari Iqro (TUTOR SEBAYA). Kemudian tiga puluh menit berikutnya dipergunakan untuk penyampaian materi yang telah direncanakan dan tersusun dalam Garis-Garis Besar Pengajaran (GBPP – ROHIS). Selanjutnya dua puluh menit terakhir dipergunakan untuk hapalan Al-qur’an surat-surat pendek dan surat-surat pilihan yang telah direncanakan. Metode penyampaian materi diusahakan menghindari metode satu arah (ceramah), tapi diharapkan para pembimbing rohani Islam mampu menggunakan berbagai macam metode kreatif dengan harapan metode tersebut bisa menumbuhkan semangat pelajar untuk belajar tanpa menimbulkan kejenuhan. Prinsip yang harus dipegang oleh para pembimbing rohani Islam metode tersebut dapat menyampaikan pesan keislaman sebanyak-banyaknya kepada para pelajar dan dapat menimbulkan gairah untuk mengamalkan inti ajaran Islam yang diperolehnya dengan penuh keikhlasan. e. Tenaga Pengajar (Pembimbing Bina Rohani Islam) Yang menjadi tenaga pengajar atau pembimbing Bina Rohani Islam tidak hanya guru Pendidikan Agama Islam saja, jika kekurangan tenaga pengajar maka Kepala Sekolah bisa menunjuk guru mata pelajaran lain yang memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap ajaran Islam. Atau jika perlu bisa mengadakan kerja sama dengan para ustadz atau ustadzah dan lembaga-lembaga keagamaan lain yang ada di sekitar sekolah. 2. Mengkondisikan Sekolah Dengan Kegiatan Keagamaan (Islamisasi Kampus). Islamisasi kampus, memang terasa sangat ekstrim. Tetapi hal ini dimaksudkan agar seluruh warga sekolah terutama yang beragama Islam bisa menjalankan sebagian syariat Islam di lingkungan sekolah sehingga situasi kondusif bisa tercipta di lingkungan sekolah tersebut. Islamisasi kampus itu diantaranya bisa dilakukan melalui : a. Setiap hari sebelum belajar diusahakan setiap pelajar membaca Al-Qur’an antara 5 s/d 10 ayat. Siswa yang telah bisa membaca Al-Qur’an diharapkan dapat membantu temannya yang masih belum bisa membaca Al-Qur’an. Sehingga saat menghadapi ujian praktek Pendidikan Agama Islam seluruh pelajar telah dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. b. Waktu istirahat disesuaikan dengan waktu salat Dzuhur, sehingga seluruh aparat sekolah dan para pelajar bisa melakukan salat tepat waktu. Dalam hal ini perlu dibuat komitmen yang serius sehingga waktu istirahat benar-benar digunakan untuk salat. c. Setiap hari jum’at (bagi yang memiliki Mesjid) mengadakan salat Jum’at berjamaah di Mesjid (Musola) yang ada di lingkungan sekolah. Seluruh pelajar mewakili kelasnya bergiliran menjadi petugas salat Jum’at seperti muadzin dan bilal. Sedangkan guru-guru yang beragama Islam diharapkan bisa bergiliran menjadi Imam dan Khatib Jum’at. d. Setiap hari Jum’at seluruh pelajar yang beragama Islam, guru-guru dan seluruh aparat sekolah dianjurkan untuk memakai busana muslim baik laki-laki maupun perempuan (di tingkat SLTP anak laki-laki memakai baju koko dan celana panjang sedangkan untuk anak perempuan memakai kerudung dan rok panjang) e. Setiap hari ada mata pelajaran Agama Islam seluruh pelajar yang beragama Islam diwajibkan memakai busana Muslim baik laki-laki maupun perempuan. f. Pihak sekolah baik pembina OSIS maupun BP/BK (di tingkat SLTP) tidak lagi mempermasalahkan jika ada para pelajar putra yang memakai celana panjang setiap hari dan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menutup auratnya, mengingat aturan yang ada baru memberikan kesempatan untuk menutup aurat bagi para pelajar putri. g. Setiap bulan ramadhan dan libur semester harus diadakan kegiatan pesantren kilat. h. Setiap bulan Ramadhan melaksanakan kegiatan pengumpulan dan pembagian zakat fitrah dan zakat maal dengan melibatkan para pelajar sehingga mereka bisa mengetahui mekanisme pembagian zakat melalui praktek. i. Setiap bulan Dzulhijjah menyelenggarakan kegiatan qurban di sekolah dengan melibatkan para pelajar sehingga mereka bisa mengetahui bagaimana mekanisme pelaksanaan ibadah qurban dan bagaiman mekanisme pembagian hewan daging qurban. j. Ketika menyelenggarakan peringatan hari besar Islam (PHBI) tidak hanya diisi dengan kegiatan ceramah tapi bisa melakukan kegiatan lain yang bisa lebih menyentuh hati dan ingatan anak seperti melakukan bakti sosial, pemutaran film-film Islam baik yang berupa film-film perjuangan maupun film-film dokumenter, cerdas-cermat Al Qur’an dan kegiatan-kegiatan lainnya. Semua hal tersebut di atas dapat terlaksana dengan baik bahkan bisa menciptakan suasana kondusif di lingkungan sekolah jika seluruh guru dan seluruh aparat sekolah mempunyai tanggung jawab dan keinginan yang sama dalam membentuk siswa yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. 3. Menggunakan Metode Insersi (Sisipan) dalam KBM Metode Insersi adalah cara menyajikan bahan pelajaran degan cara ; inti sari ajaran Islam atau jiwa agama atau emosi religius diselipkan atau disisipkan di dalam mata pelajaran umum (Tayar Yusuf, 1995 : 73). Untuk menggunakan metode ini guru agama harus bekerja sama dengan guru mata pelajaran lain (mata pelajaran umum) agar pesan-pesan keagaamaan bisa disampaikan melalui pelajaran umum dengan cara yang sangat halus, sehingga hampir tidak terasa bahwa sesungguhnya saat itu para pelajar sedang mendapatkan suntikan keagamaan oleh guru mata pelajaran yang bukan pelajaran agama. Metode insersi ini bisa dilakukan melalui seluruh mata pelajaran, sebagai contoh ketika guru mata pelajaran ekonomi mengajarkan tentang barter dan jual beli maka bisa disisipkan jiwa agama berupa informasi tentang perlunya ijab kabul dan perlunya pencatatan transaksi jual beli yang tidak dengan cara tunai sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 282. Atau contoh lain ketika melakukan praktikum IPA, guru IPA bisa mneyampaikan perlunya kejujuran, ketelitian dan kesabaran dalam melakukan praktek, sebab tanpa semua itu hasil dari praktek tidak akan memuaskan bahkan mungkin gagal, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. D. Alat –alat Yang Digunakan Dalam Proses Pendidikan Alat pendidikan berperan penting dalam proses belajar mengajar untuk mewujudkan tujuan penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan harapan. Peran alat pendidikan perlu dikembangkan secara optimal agar menunjang kelancaran proses pendidikan. Ahmadi (1991:140) menyatakan bahwa alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi-kondisi yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik, tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan diri sebagai perbuatan atau situasi, dengan perbuatan dan situasi mana, dicita-citakan dengan tegas, untuk mencapai tujuan pendidikan. Muharam A.(2009:127) menyatakan bahwa alat pendidikan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk kegiatan pendidikan, baik berbentuk material maupun non material. Indra kusumah (1973:138) menyatakan bahwa alat pendidikan berupa perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan yang secara konkrit dan tegas dilaksanakan, guna menjaga agar proses pendidikan bisa berjalan dengan lancar dan berhasil. Ada tiga unsur sebagai pendukung atau penunjang dalam penyelenggaraan pendidikan agar mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu : 1. Tersedianya sarana prasarana yang memadai, yaitu berupa ruangan, bangunan atau tempat tertentu misalnya ruangan kelas, bangunan sekolah, perpustakaan, masjid, laboratorium, museum, koperasi, dan lain sebagainnya. 2. Metode yang menarik. Sehubungan itu dianjurkan agar menggunakan metode yang menarik perhatian peserta didik. Misalnya dalam pemberian nasehat atau ceramah diselingi oleh kisah-kisah para Nabi, sahabat, atau orang-oarng salih. Juga hendaknya jangan hanya menggunakan satu metode saja, tapi gunakan juga metode-metode yang lainnya. Lebih baik lagi apabila dengan disertai menggunakan alat peraga. 3. Pengelolaan atau manajemen yang profesional. Untuk mencapai hasil pendidikan sesuai yang diharapkan maka diperlukan pengelolaan atau manajemen yang profesional. Ketertinggalan-sebagian umat Islam dalam bidang pendidikan pada masa sekarang ini disebabkan karena kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas tinggi, kurangnya kemampuan dalam hal finansial/keuangan dan kurangnya pengelolaan atau manajemen yang professional. Berdasarkan pernyataan di atas maka proses dalam penyelenggaraan pendidikan itu adalah bagaimana seorang pendidik dapat menyampaikan ilmu atau pesan kepada peserta didiknya. Penyampaian ilmu atau pesan tersebut membutuhkan adanya alat atau sarana demi tercapainya tujuan pendidikan. Alat atau sarana yang dapat menunjang tercapainya suatu tujuan pendidikan tersebut dinamakan alat pendidikan. Mengingat bahwa alat pendidikan tersebut begitu penting dalam usaha penyampaian ilmu atau pesan bagi seorang pendidik, maka pemahaman tentangnya menjadi sangat mendasar bagi seorang pendidik. BAB III PENUTUP A. Simpulan Menurut Drs. Ahmad D Marimba : Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya keperibadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian yang lain seringkali beliau mengatakan kepribadian utama tersebut dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian pendidikan Islam sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek kerohanian dan kejasmanian juga harus berlangsung secara bertahap. Oleh karena suatu pematangan yang bertitik akhir pada optimilasi perkembangan atau pertumbuhan, baru dapat tercapai bila mana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan akhir perkembangan atau pertumbuhannya. Adapun Lembaga-lembaga pendidikan diantaranya SMP/MTS yang berbasis Islam diharuskannya memiliki beberapa ciri dalam proses belajar-mengajar terhadap Mata Pelajaran sebagai berikut : 1. Menerapkan tata cara membaca Al-qur’an menurut tajwid, mulai dari cara membaca “Al”- Syamsiyah dan “Al”- Qomariyah sampai kepada menerapkan hukum bacaan mad dan waqaf. 2. Meningkatkan pengenalan dan keyakinan terhadap aspek-aspek rukun iman mulai dari iman kepada Allah sampai kepada iman pada Qadha dan Qadar serta Asmaul Husna. 3. Menjelaskan dan membiasakan perilaku terpuji seperti qanaah dan tasawuh dan menjauhkan diri dari perilaku tercela seperti ananiah, hasad, ghadab dan namimah. 4. Menjelaskan tata cara mandi wajib dan shalat-shalat munfarid dan jamaah baik shalat wajib maupun shalat sunat. 5. Memahami dan meneladani sejarah Nabi Muhammad dan para shahabat serta menceritakan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di nusantara. Untuk upaya mensiasati keterbatasan jam pelajaran sebagai strategi penyelenggaraan pendidikan agama Islam di sekolah dapat diketahui sebagai berikut ; a. Menyeleggarakan Bina Rohani Islam (ROHIS). b. Mengkondisikan Sekolah Dengan Kegiatan Keagamaan (Islamisasi Kampus). c. Menggunakan Metode Insersi (Sisipan) dalam KBM. Dan yang terakhir ialah alat –alat yang digunakan dalam proses penyelenggaraan Pendidikan, karena adanya sarana dan prasarana yang lengkap akan sangat memudahkan untuk para guru belajar-mengajar terhadap murid. Berikut keterangan lebih lanjut : 1. Tersedianya sarana prasarana yang memadai, yaitu berupa ruangan, bangunan atau tempat tertentu misalnya ruangan kelas, bangunan sekolah, perpustakaan, masjid, laboratorium, museum, koperasi, dan lain sebagainnya. 2. Metode yang menarik. Sehubungan itu dianjurkan agar menggunakan metode yang menarik perhatian peserta didik. Misalnya dalam pemberian nasehat atau ceramah diselingi oleh kisah-kisah para Nabi, sahabat, atau orang-oarng salih. Juga hendaknya jangan hanya menggunakan satu metode saja, tapi gunakan juga metode-metode yang lainnya. Lebih baik lagi apabila dengan disertai menggunakan alat peraga. 3. Pengelolaan atau manajemen yang profesional. Untuk mencapai hasil pendidikan sesuai yang diharapkan maka diperlukan pengelolaan atau manajemen yang profesional. Ketertinggalan-sebagian umat Islam dalam bidang pendidikan pada masa sekarang ini disebabkan karena kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas tinggi, kurangnya kemampuan dalam hal finansial/keuangan dan kurangnya pengelolaan atau manajemen yang professional. B. Saran Saya menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk saya guna mengingatkan dan memperbaiki setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah. Terakhir tidak lupa saya mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. DAFTAR PUSTAKA Quthb, Muhammad. 1988. Sistem Pendidikan Islam. Bandung : Al-Ma’arif. Tafsir, Ahmad. 2008. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Tafsir, Ahmad. 1994. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung : Remaja Rosdakarya. http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/03/06/strategi-penyelenggaraan-pendidikan-agama-islam-di-sekolah-umum/ http://ilmukitanih.blogspot.com/2010/05/alat-alat-pendidikan-karakteristik-alat.html KATA PENGANTAR Segala puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah Swt, yang telah memberikan ni’mat sehat wal-afiyat atas diri ini, dan alam semesta yang kian selalu bertasbih kepada-Mu merupakan suatu motivasi yang tak pernah larut dalam butir-butiran kemalasan yang selalu ada pada setiap diri umat-Mu, untuk selalu bersyukur dalam setiap syujudku atas kelancaran menyelesaikan tugas makalah ini. Tidak lupa pula shalawat serta salam saya curahkan kepada pimpinan umat Islam sedunia yang telah membawa umat dari kejahiliyahan menuju cahaya terang yang penuh dengan pengetahuan dan rahmat ilahi, Nabi Muhammad saw beliaulah utusan bagi semesta alam sampai akhir zaman. Di balik terselesaikannya makalah ini, yang bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas individu pada Mata Kuliyah “Ilmu Pendidikan Islam” dengan judul “Penyelenggaraan Pendidikan Islam di SMP.” Saya selaku penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan maupun penyusunan yang kurang baik, karena saya hanyalah manusia biasa yang memiliki kekurangan ataupun kelebihan, sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt semata. Maka dari itu, kritik dan sarannya diharapkan bagi rekan pembaca demi kesempurnaan dalam pembuatan makalah selanjutnya. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat dan menjadi tambahan ilmu pengetahuan bagi rekan-rekan sekalian. Sukabumi, 27-Desember-2010 Penyusun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar